Motor klasik pabrikan BMW (Debby LG)

Seruu.com - Begitu mendengar kata ‘motor klasik’, mungkin pikiran kita langsung melayang pada motor kuno dan antik yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Tapi jangan salah. Di tangan para penghobi motor klasik yang tergabung dalam berbagai komunitas motor klasik yang ternyata sudah ada sejak 30 tahun lalu ini, motor buatan Eropa sebelum tahun 1960-an ini berubah menjadi sesuatu yang indah dan unik.

Para penghobi motor klasik yang dulunya digunakan sebagai kendaraan perang ini mengaku tertarik dengan bentuk motornya yang indah dan tak ketinggalan jaman, serta suara mesinnya yang khas. “Suara motor klasik ini menderum seperti saat mendengar suara mesin motor Harley. Ketukannya pelan-pelan. Tak heran, motor ini sering disebut dengan ‘motor udug’,” jelas Djumadi, salah satu penghobi motor klasik.

Setelah terjun menggeluti motor klasik ini, ternyata banyak hal menarik yang didapat. Selain semakin tahu perkembangan tekhnologi pada masa itu, para penghobi juga banyak kenal dengan sesama penghobi lainnya yang memiliki rasa persaudaraan dan setia kawan yang tinggi.

Manfaat lainnya, para penghobi menjadi semakin sabar selama menggeluti hobi unik ini, karena perlu perjuangan tersendiri untuk mendapatkan motor, hunting suku cadangnya dan restorasinya yang bisa berlangsung bulanan hingga tahunan.  
    
Bagi para pemula yang ingin menerjuni hobi ini, tentunya langkah ‘termudah’ adalah berusaha dekat dengan komunitas motor klasik atau bergabung dan ‘belajar’ dalam salah satu club di mana akan banyak informasi tentang motor klasik yang didapatkan, seperti merek dan tipe apa saja yang menjadi favorit dan bagaimana perawatannya.

Beberapa merek biasanya menjadi incaran banyak orang, seperti merek Triumph, BSA, Norton, BMW, Harley Davidson dan Indian, yang biasanya bisa berupa motor utuh atau motor dalam kondisi terurai.

Harga pun ditentukan berdasarkan merek, tipe motor dan tingkat keorisinalitasannya yang mungkin bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Apalagi belakangan ini harga motor klasik semakin melambung tinggi karena makin banyak peminatnya, sehingga cocok juga sebagai investasi.

Para penghobi biasanya ‘berburu’ motor klasik ini ke kota-kota tua di mana dulunya kota tersebut lebih maju dibanding kota-kota lainnya sehingga ‘peninggalan’ motor klasiknya pun masih cukup banyak, seperti Surabaya, Malang, Semarang, Solo, Yogyakarta, Magelang dan Bandung.
     
Banyak suka-duka yang dialami para penghobi motor klasik ini, salah satunya mengenai proses belajar tentang motor klasik yang lama dan ‘mahal’. Lama karena membutuhkan waktu untuk mempelajari motor Eropa ini, seperti mana yang bagus atau mana motor yang orisinil, dan dianggap ‘mahal’ karena para penghobi bisa tertipu atau salah beli motor selama proses belajar ini.

Namun, penghobi masa sekarang lebih beruntung karena proses hunting sudah sangat mudah melalui internet di mana banyak yang mengiklankannya. Di jaman sebelum ada internet dan bahkan ponsel, para penghobi harus aktif mencari info di mana ada motor yang mau dijual yang terkadang informasi tersebut tidak akurat, motor tidak sesuai harapan atau malah memang tidak ada barangnya.
    
Djumadi yang juga anggota salah satu komunitas motor klasik ini menjelaskan bahwa proses restorasi pun memerlukan kesabaran. Suku cadang yang susah didapatkan, hingga harus memesan dari negara lain pun dilakoninya, setelah tidak menemukannya di pasar loak di seluruh Indonesia. Bila beruntung, biasanya ada teman-teman sesama komunitas yang menyimpan suku cadang tersebut untuk dijual kembali pada yang membutuhkannya.

Restorasi motor antik ini memang ibarat menyusun sebuah puzzle yang pada akhirnya akan menemukan kepuasaan tersendiri saat melihat hasil akhirnya yang indah. Selain itu, keluarga pun bisa dilibatkan dengan cara meluangkan waktu berputar-putar kota atau kompleks perumahan setiap akhir pekan, sambil sekaligus memanaskan mesin agar tetap awet. Hobi yang mengasyikkan sekaligus menambah kedekatan dengan keluarga, bukan?. [Debby LG]
 

 

Peraturan Komentar